Mengenal Intervensi Elektrofisiologi Ablasi Aritmia

Mengenal Intervensi Elektrofisiologi Ablasi Aritmia


Aritmia ini bisa berupa gangguan irama jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

Tahukah Anda bahwa jantung manusia berdetak dalam irama tertentu. Namun ketika terjadi abnormalitas impuls listrik ke otot jantung maka dapat mengganggu irama jantung atau dalam istilah medis disebut dengan “Aritmia”. Aritmia ini bisa berupa gangguan irama jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

Dahulu, satu-satunya cara untuk mengatasi Aritmia adalah dengan mengonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter namun pemberian obat tidak efektif menormalkan irama jantung. Selain itu, terdapat efek samping yang tidak diharapkan.

Jenis Aritmia untuk Prosedur Intervensi Elektrofisiologi Ablasi Aritmia

1.      Takikardia Supraventrikular dan WPW Syndrome

Takikardia Supraventrikular merupakan gangguan irama jantung yang cepat akibat impuls listrik jantung terganggu. Biasanya ditandai dengan gejala jantung berdebar-debar.

Prosedur elektrofisiologi ablasi aritmia dapat diterapkan pada Takikardia Supraventrikular termasuk WPW Syndrome, suatu sindrom di mana jalur tambahan listrik di jantung yang juga menyebabkan irama jantung cepat.

2.      Takikardia Atrium

Prosedur intervensi elektrofisiologi Ablasi Aritmia juga dapat mengatasi Takikardia Atrium atau denyut jantung cepat yang disebabkan hal-hal di luar penyakit. Misalnya karena olahraga, ketakutan, stress, marah, atau cemas.

Meskipun Takikardia Atrium tidak nampak berbahaya tapi jika tidak dilakukan intervensi elektrofisiologi ablasi aritmia dapat berakibat fatal.

3.      Kepak Atrium (Atrial Flutter)

Kapak Atrium adalah jenis aritmia yang sering terjadi di Indonesia. Di mana  terjadi ketika bilik atas jantung (atrium) berdetak terlalu cepat. Biasanya gejalanya berupa pusing, balap jantung (palpitasi), dan sesak napas.

4.      Fibrilasi Atrium (Atrial Fibrillation)

Fibrilasi Atrium adalah kondisi di mana irama jantung tidak teratur sehingga menyebabkan aliran darah tidak lancar. Setidaknya, ada 150 ribu kasus Fibrilasi Atrium per tahun di Indonesia. Saat ini penderita Fibrilasi Atrium dapat melakukan prosedur ablasi untuk mengatasinya.

5.      Takikardia Ventrikel (Ventricular Tachycardia)

Takikardia Ventrikel terjadi karena masalah impuls listrik jantung yang membuat bilik bawah jantung berdenyut cepat. Jika tidak segera dilakukan intervensi elektrofisiologi ablasi aritmia maka kondisi ini akan berkembang menjadi serangan jantung dengan gejala nyeri dada, sesak napas, pusing, dan pingsan.

6.      Denyut Ventrikel Prematur (Premature Ventricular Contractions)

Ini adalah gangguan detak jantung yang dapat menyebabkan irama jantung yang terlalu dini. Umumnya ditandai dengan detak jantung berdebar-debar, detak jantung ganda yang tidak sempurna, dan rasa tidak nyaman di dada akan tetapi bukan rasa nyeri dada.

 

Tingkat Keberhasilan Elektrofisiologi Ablasi Aritmia

Tingkat keberhasilan elektrofisiologi ablasi aritmia tergantung berapa lama dan jenis aritmia. Namun secara umum intervensi elektrofisiologi ablasi aritmia  dapat membuat 98%-99% irama jantung kembali normal dan kurang dari 1% membutuhkan alat pacu jantung, terjadi stroke, bahkan kematian mendadak pada kasus berat.

Tindakan ablasi aritmia ini termasuk ke dalam salah satu sub spesialisasi intervensi elektrofisiologi. Sehingga akan lebih cocok jika anda konsultasikan permasalahan ablasi aritmia kepada dokter ahli jantung yang memiliki sub spesialisasi di bidang intervensi elektrofisiologi. Salah satu dokter ahli jantung berpengalaman di bidang ini adalah dr Dicky Hanafy , dr Sunu Raharjo dan dr Faris Basalamah yang kini berpraktek di Heartology Cardiovascular Center

Buat janji dengan dokter ahli jantung di Heartology dan temukan jadwal praktek yang sesuai dengan kesediaan anda lalu daftar online di https://heartology.id/